Emotion,
Jungle, 09 July 2008
Manusia adalah makhluk yang perasa karena di karuniai emosi oleh Tuhan. Emosi sendiri jika di jabarkan maka akan memiliki banyak sekali makna, bahkan mungkin akan lebih banyak makna yang tidak mampu di ungkapkan dan di gambarkan dalam kata-kata. Diantaranya adalah sifat Egois yang ada dalam diri manusia. Harus di akui sifat egois dalam diri manusia itu sangat manusiawi dan wajar. Namun sejauh mana kita mampu mengendalikannya hingga mengabaikan nya, it might be the hardest part.
Saya ingat saya pernah membaca sebuah email dari seorang teman yang berjudul “Yesus Sahabat Andy…” . Singkatnya cerita yang di sampaikan lewat email tersebut adalah tentang persahabatan yang ada di antara Tuhan dan seorang anak kecil dari salah satu daerah di mexico yang bernama Andy. Namun bagi saya, cerita itu menggambarkan betapa andy memiliki hati yang tulus terhadap apa saja dan siapa saja yang di hadapinya. Tiap kali Andy bicara dengan Tuhan, dia tidak pernah meminta Tuhan untuk menyembuhkan luka hatinya. Ketika ibunya memukul, Andy berkata “Oh ya, Engkau tahu ibu memukulku lagi karena aku nakal. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, di sini… di sini… aku rasa Engkau tahu yang ini kan? Tolong jangan marahi Ibuku ya? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku… Itulah mengapa dia memukul kami.” Betapa tulus hati Andy dan bijak nya dia dalam berkata pada siapa saja termasuk Tuhan.
Kadang kita berkata “Tuhan, ajari aku merendahkan diri untuk memulyakan namaMU.. Tuhan, ajar aku untuk tidak lagi egois pada orang-orang di sekitar ku agar kasih Tuhan boleh nampak melalui aku..”
Namun ketika Tuhan memakai hal-hal yang tak terduga (bahkan hal-hal yang paling menyakitkan sekalipun) untuk mengajar kita tetang merendahkan diri agar kita tidak menjadi seorang yang egois apalagi sombong, maka terkadang jawaban kita adalah kenapa?
Ketika saya bertengkar dengan kekasih saya. Kami sama-sama mengira salah satu dari kamilah yang ingin menyakiti yang lain. Padahal ketika Tuhan menyentuh hati masing-masing kami, kami kembali di ingatkan bahwa masing-masing hanya tidak mampu menunjukkan maksudnya, tujuannya. Saya bekerja di dalam kantor, sementara kekasih saya bekerja di lapangan. Secara sudut pandang jelas akan berbeda. Saya berharap dia tidak terlalu lama mengambil ijin emergency-nya karena keadaan kantor cukup pelik dengan kurangnya man power di lapangan. Namun kekasih saya bersikeras untuk tetap tinggal di rumahnya dan tidak perduli dengan keadaan. Satu jam setelah bertengkar saya berpikir ini akan berakhir. Namun Tuhan ingatkan saya bahwa sejak awal hubungan ini di mulai kami sudah menyerahkannya kedalam tangan Tuhan dan ingin DIA campir tangan dalam tiap hal. Tak lama, kekasih saya mengabarkan kalau ibunya tiba-tiba sakit kembali ( ibu-nya mengidap penyakit gula, sementara alas an awal kekasih saya mengambil ijin emergency adalah karena kota tempat tinggalnya terkena banjir, sebagai anak tertua dia merasa memiliki tanggung jawab untuk membantu orang tuanya).
Saya sadar bahwa hidup menjadi manusia akan menggumuli banyak sekali masalah-masalah emosional. Namun saya juga sangat menyadari bahwa hidup menjadi pengikut Kristus akan menghadapi lebih banyak lagi masalah-masalah itu. Dalam berbagai-bagai macam arti dan aspek kehidupan, karena sebagai manusia segala macam kegiatan yang di hadapi dan dilakukan pasti melibatkan emosi.
Ketika kita percayakan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Tuhan tidak akan pernah membiarkan hal buruk menimpa kita, DIA hanya ingin kita belajar jadi kuat dalam menghadapi apapun dan agar lebih kuat untuk hal yang akan terjadi dan mungkin lebih keras di depan nanti.
Saya ingat pasal favorit saya Mazmur 37 , salah satu ayatnya berbunyi demikian “Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yangbaik….Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNYA dan Ia akan bertindak..”
Tuhan memberikan manusia emosi. Tuhan juga memberikan manusia kesempatan untuk berkarya. Waktu untuk merasakan banyak sekali hal, termasuk di dalamnya adalah waktu untuk mempercayakan hidup memuliakan namaNYA lewat bersikap bijak dalam membijaki waktu, sikap dan ucapan lewat perbuatan agar nama Tuhan boleh di permuliakan. AMEN.
tanda kita hidup adanya emosi. duka, senang, gelisah dan wujud emosi lainnya merupakan tanda kemanusiaan kita. bahkan salah satu tanda syukur kita pada yang Maha Kuasa adalah dengan menyadari potensi kemanusiaan tersebut.
terkadang kita terlupa dalam jubah ‘kesucian’ hingga melupakan unsur kemanusiaan kita. sungguh terkadangan saya, anda bahkan mungkin rekan sekalian menganggap emosi itu bagian dari kesesatan.
saya meyakini tujuan Tuhan memberi kita rasa/emosi tentu bertujuan. hanya manusia yang mengakui dan menyadari keberadaan emosi adalah makhluk-Nya yang mampu menjangkau maksud yang bertujuan itu.
Musibah hanyalah satu dari sekian kejadian alam yang menguji kesadaran ‘emosi’ kita. akui saja jika kita gundah, gelisah, kecewa bahkan sedih. Ingat Rasul ketika menerima wahyu dari Jibril sekalipun datang menghadap khadijah dengan perasaan yang bercampur baur; takut, cemas, bingung, senang dan seabrek emosi kemanusiaan lainnya.
emosi yang dilenyapkan dan disublimasikan kedalam titik terendah diri kita hanya akan melahirkan sosok manusia yang dingin seperti batu, yang tidak peka terhadap sesama, yang merasa senang dan bangga dengan kesucian diri pribadi hingga rela menumpahkan darah pada sesama.
so….. jadilah Insan-Nya yang pandai mensyukuri segala pemberian-Nya
alike.wordpress.com